►Allah Ta’ala berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi (semua keperluan) nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Allah Ta’ala berfirman:
وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Dan hanya kepada Allah, hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” (QS. Ath-Thaghabun: 13)
Hushain bin Abdurrahman -rahimahullah- berkata:
“Saya
pernah bersama Said bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara
kalian yang melihat bintang jatuh tadi malam? ‘ Aku menjawab, ‘Aku’.
Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan shalat, akan
tetapi aku terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu
berkata, “Lantas apa yang kamu perbuat? ‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta
untuk diruqyah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan hal
tersebut? ‘ Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy-Sya’bi ceritakan
kepadaku.’ Sa’id bertanya lagi, ‘Apa yang diceritakan asy-Sya’bi kepada
kalian.’ Aku menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari
Buraidah bin Hushaib al-Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah
kecuali disebabkan oleh penyakit ain dan racun (sengatan binatang
berbisa).” Maka Sa’id pun menjawab, “Telah berbuat baik orang
melaksanakan sesuai dengan apa (dalil) yang dia dengar. Hanya saja Ibnu
Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, beliau bersabda: “Telah diperlihatkan kepadaku semua umat.
Lalu aku melihat seorang nabi yang bersamanya 3 sampai 9 orang, ada
juga nabi yang bersama dengannya hanya satu atau dua orang lelaki saja,
bahkan ada seorang nabi dan tidak ada seorangpun yang bersamanya.
Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang, maka aku menyangka
mereka adalah umatku. Tetapi dikatakan kepadaku, ‘Mereka adalah Nabi
Musa alaihissalam dan kaumnya. Tetapi lihatlah ke ufuk’. Lalu aku pun
melihatnya, ternyata ada kumpulan besar yang berwarna hitam (yakni
saking banyaknya orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi
kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat
kumpulan besar yang berarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah
umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki
surga tanpa dihisab dan azab.” Setelah menceritakan itu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam
rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan
dimasukkan ke dalam Surga tanpa dihisab dan azab. Sebagian dari mereka
berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ada pula yang mengatakan,
“Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak
pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.” Mereka mengemukakan
pendapat masing-masing. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya: “Apa yang telah kalian
perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Maka Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang
tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak
meyakini thiyarah (pamali) dan hanya kepada Allah mereka bertawakal.”
Ukkasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar
aku termasuk dari kalangan mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Kamu termasuk dari kalangan mereka.” Kemudian
seorang lelaki lain berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar
aku termasuk dari kalangan mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Ukkasyah telah mendahuluimu.” (HR. Al-Bukhari no. 5270 dan Muslim no. 323)
Kalimat
yang ditebalkan di atas telah dikritisi oleh sebagian ulama, di
antaranya Imam Ad-Daraquthni dan selainnya. Karena kandungannya
bertentangan dengan dalil-dalil lain yang membolehkan bahkan
menganjurkan seseorang yang mampu untuk meruqyah saudaranya, tanpa perlu
dia diminta.
Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan:
هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meyakini thiyarah (pamali),
tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan
dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah mereka
bertawakkal.”
Penjelasan ringkas:
Definisi
tawakkal adalah penyandaran hati dan penyerahan semua urusan kepada
Allah Ta’ala dalam meraih kebaikan atau menghindar dari mudharat,
disertai dengan usaha dengan menempuh sebab yang syar’i (dibenarkan
syariat) dan kauni (terbukti punya hubungan sebab akibat). Karenanya
bukan tawakkal kalau hanya pasrah kepada takdir tanpa ada usaha, dan
sebaliknya termasuk kesyirikan jika hanya bersandar pada usaha tanpa
menyandarkan seluruhnya kepada Allah Ta’ala.
Tawakkal termasuk dari ibadah qalbiah
(hati) yang paling mulia dan paling urgen, sampai-sampai Allah Ta’ala
menggandengkan tawakkal dengan tauhid kepada-Nya dalam firman-Nya, “(Dia-lah) Allah tidak ada sembahan yang hak selain Dia. Dan hanya kepada Allah, hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.”
(QS. Ath-Thaghabun: 13). Karenanya balasannyapun merupakan balasan
yang paling mulia di dunia dan di akhirat, di dunia berupa kecukupan
dari Allah dalam semua hal yang dia butuhkan dan di akhirat berupa
masuk surga pertama kali, tanpa didahului oleh hisab dan azab
(dibersihkan dalam neraka).
Dalam
hadits di atas disebutkan 4 kriteria dari ke-70.000 orang yang akan
masuk surga tanpa hisab dan azab, hanya saja 3 yang pertama merupakan
sifat detail dan yang keempat merupakan sifat umum untuk ketiganya.
Yakni karena orang yang minta diruqyah, meyakini pamali, dan berobat
dengan kay adalah orang-orang yang rendah tawakkalnya kepada Allah.
Orang yang pertama karena minta diruqyah padahal bisa saja dia meruqyah
dirinya sendiri, maka tatkala dia meminta bantuan diruqyah maka
menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan dia kepada Allah rendah.
Orang yang meyakini pamali rendah tawakkalnya karena meyakini sesuatu
yang bukan sebab syar’i dan kauni sebagai sebab, padahal dalam tawakkal
seseorang hanya boleh menempuh dan meyakini sebab yang syar’i dan
kauni. Orang yang ketiga juga rela menyakiti tubuhnya untuk sembuh
padahal masih ada pengobatan lainnya, ini tentunya dia lakukan karena
rendahnya tawakkal dan kesabaran dia kepada Allah.

0 komentar:
Posting Komentar